Sunday, July 6, 2014

Puji Tuhannnnnn...
Bisa ngeblog lagi..
Setelah sekian lama mencoba untuk menhidupkan internet laptop di kamar, yang susah sinyal, Tuhan baik banget di hari Minggu ini Tuhan mengijinkanku untuk membagi pengalamanku ketika Trip ke Gunung Gede minggu lalu, 27-29 Juni 2014.
 
Keberangkatan yang dimulai tepat di hari Jumat, 27 Juni 2014 pukul 22.00 wib, bersama rekan pemuda gereja ( sekitar 12 orang saja yang berminat ). Trip ini dipimpin oleh leader yang biasa ngetrip ala backpacker yang kami kenal juga hanya lewat situs internet. Puji Tuhan, kami tiba di kampung rambutan dan bertemu Azis, Upay, dan Jack ( sang leader ). Terima kasih untuk Bang Sahat yang rela meluangkan waktunya untuk mengantar kami tiba di terminal Kampung Rambutan.
 
Kami tiba di Cibodas, 28 Juni 2014, sekitar pukul 04.30 wib. Mungkin ada beberapa teman yang mengira bahwa mungkin kami akan beristirahat di hotel atau minimal Home Stay... Dan celetukan-celetukan itu terdengar jelas di telingaku (yang pasti para cewe yang teriak demikian).Pada kenyataanya kami tidur ngemper di halaman depan, teras warung nasi "MINI" (thanks to ownernya warung nasi. Membiarkan kami ngemper kurang lebih 2 jam sesaat untuk beristirahat ).
 
Asli, udaranya dingin banget. Walau hanya beralaskan matras dengan baju penghangat seadanya kami pun tidur.
(tanpa sikat gigi, tanpa cuci muka, tanpa ganti baju, warung nasi ini tepat ada di tanjakan kaki gunung putri )


Bagi teman-teman yang berminat ngetrip ala backpacker, silahkan nongkrong di warung nasi ini. Muat untuk 12 orang kok, hahahaha...
Perjalanan yang dimulai pukul 08.00 pagi, dengan persiapan fisik ala kadarnya, membuat kami sudah meminta beristirahat berulang kali.

( di tengah perjalanan )
 
Perhatikan dengan seksama barang bawaan para pria itu.. hahaha.. namun orang yang paling layak untuk dikasihani dan diberi jempol adalah Mas Azis dkk, dia membawa puluhan kilogram beban di pundaknya, tidak pernah keluar sedikitpun kata "Aku Lelah, kawans... "
 
( agak bangga sedikit karena sudah bisa melewati beberapa kilo meter )



Di tengah perjalanan rasa kelelahan mulai terasa, Mas Azis yang mulai keberatan membawa barang, Rizki yang mulai sedikit - sedikit minta istirahat, Bang David yang dengan beban bawaanya mulai kewalahan, dan Yosepin yang akhirnya menangis sempat menyeletuk untuk menyesal mendaki lagi.

( narsis dulu di surya kencana )
 
 
Akhirnya kami tiba di Surya Kencana ( alun-alun surya kencana ), yang katanya ini merupakan tempat Kerajaan Siliwangi dahulu kala, kurang lebih pukul 05.00 wib. Selama perjalanan, rasanya pengen teriak untuk berhenti dan turun kembali. Ingin rasanya menyerah dan tidak mau melakukan trip ini lagi. Jalanan yang menanjak, yang semakin lama tanjakan berupa batu-batu yang tidak beraturan membuat kaki ini mulai menjerit kesakitan.
Lagi-lagi Puji Tuhan, kami dipertemukan dengan satu tim yang sudah biasa naik turun gunung gede berkali-kali, akhirnya dia menawarkan jalur jalan lama yang lumayan enak untuk di daki. Lupa persis namanya siapa, tapi akhirnya kami bersama rombongannya. Dia yang selalu menyemangati kami untuk tetap bertahan, dan meyakinkan kami bahwa kami akan tiba di atas sana. Dan memang Tuhan itu baik banget, tim mereka tidak sungkan-sungkan untuk mengajak kami bergabung, menikmati hidangan yang mereka bekal sebelumnya.
 
Berhubung kami mengejar sebelum matahari terbenam sejenak berpoto di surya kencana, dimana begitu banyak tanaman bunga edelwis yang mewarnai alun-alun itu. Tapi berhubung sedang musim hujan, jadi sang bunga banyak yang kuncup. Puji Tuhan lagi, ketika kami diatas sana kami tidak merasakan hujan besar, paling juga hanya setetes ( mungkin tetesan embun ).
 
Perjalanan dari alun-alun surya kencana sampai ke tenda sekitar 20 menit tanpa istirahat. Di tengah perjalanan aku menemukan sesuatu hal yang romantis. hihhihihi..
 

( sepasang manusia )
 
Sang pria sempat menanyakanku apakah kami akan menenda di sekitar alun-alun ini, dan aku hanya mengangguk dan mengatakan " Ya.. "
 
 
( bunga edelwis di sekitar surya kencana )
 
Setiba di tenda, kami para wanita ( walau tepatnya aku dan desi ) memasak nasi setengah matang. Namun, walau begitu semua rasanya nikmat. Setelah para pria dan wanita makan, aku memutuskan untuk memijat dan memberi minyak angin untuk Yosepin ( berhubung fisiknya benar-benar lemah ketika itu.) Dan lanjut memijat Anton yang sudah tag aku untuk memijatnya semenjak di perjalanan. Aku merasakan apa yang mereka rasakan. Rasanya air mata ini ingin keluar, namun aku coba untuk tahan. Hahahhaa, tidak mau terlihat lemah. Setelah memijat dua makhluk ini, kami semua memutuskan untuk tidur tepat pukul 21.00 wib.
 
( mie instan terasa nikmatnya )
 
Di pagi hari, terlihat Yosepin merasa lebih baik, dan Anton demikian. Beban bawaan Anton dikurangi, Bang David, Octa dan Rizki mengalah, bersedia untuk membawa beban lebih berat dibanding Anton. Tadinya kami ingin memutuskan untuk turun gunung, dan tidak melanjut ke Puncak Gunung Gede. Namun, karena merasa sangat sayang jika sudah mendaki tanpa menaiki di puncaknya, kami putuskan untuk mendaki kurang lebih 1 jam lagi.
Puji Tuhan, tanpa kendala kami pun tiba diatasnya.


( sebelum melepas tenda dan berangkat menuju puncak gede )


( Octa yang merasa ngilu pundaknya )
 
Terasa pundak kesakitan, akhirnya dia memutuskan untuk meminta tolong Rizki dan Anton untuk menempel Tisu setebal-tebalnya supaya mengurangi rasa sakit.

(dilihat dari puncak gunung gede )
 

( Anton yang sedang melihat hasil poto narsis ketika di puncak gunung gede )
 
 
Anton hampir sama dengan Octa merasa nyeri pundak, bedanya pundak Anton aku lapisi pembalut, opssss.. So, bagi teman-teman yang mendaki, yang merasa sakit pundak, ide ini cukup mujarab. Tempelkan beberapa pembalut, semakin tebal akan semakin lebih baik. Kami panggil dia, Si Pria Pembalut. 
 
( lihat wajah puas itu setelah mendaki mencapai puncak gede )
 

( Yosepin yang menangis di perjalanan, akhirnya bisa narsis setelah diatas puncak)


( keren banget dilihat dari atas sini )
 
 

Berhubung kami sudah cukup kesorean mencapai puncak gede, kami putuskan untuk turun gunung tidak melewati Cibodas. Padahal sebenarnya pengen banget, karena tantangan ditempat itu lebih keren. Tapi, kami sadar betul akan fisik kami yang cukup 'kurang baik', kami kami inisiatif turun dijalur gunung putri.
Dan bersyukur kami tidak melewati jalur Cibodas, karena mungkin kami tidak tahu akan tiba pukul berapa di Jakarta.
 
Selama perjalanan turun gunung, aku mulai merasakan kesakitan. Sepatuku kesempitan, hahahhaha. padahal sizenya biasa aku gunakan. So, buat teman-teman yang inisiatif untuk menggunakan sepatu gunung, sisakan 1 size lebih untuk menahan jempol dan jari-jari lainnya ketika turun gunung.
 
Kaki mulai terasa kaku, bukan karena kedinginan, tapi karena sudah cukup kesakitan. Di tengah perjalanan pulang, lupa persisnya pos ke berapa, kami sempat salah jalur. Jalur yang kami lewati tidak sama dengan jalur yang sebelumnya kami lintasi. Aku shock, dan entah kenapa ketika itu aku menangis dan berucap, " Tuhan, jika kami harus menginap disini lagi, biarlah kami menenda disini, dan tidak mendaki lagi.) Sang leader, Azis tepat ada di depanku terlihat lemas dan berucap-ucap sendiri, mungkin dia sedang berdoa. Teringat pesan Azis setelah magrib itu, malam yang datang menghampiri, dia menyampaikan kepada kami untuk tetap melihat ke bawah (arah langkah, dilarang keras melihat kanan kiri, depan atau belakang, dan sinar headlamp pun dilarang mengarahkan ke arah-arah pantangan tersebut. ) Kami benar-benar sadar bahwa kami tersesat, ketika begitu banyak daun berjatuhan, dan pohon yang bertanda putih, seharusnya tanda berwarna hijau). Entah apa yang ada dalam pikiranku, aku berniat menolong Azis untuk membantu dia melihat dengan jelas arah hutan itu, dengan spontan aku arahkan senterku ke arah kanan pohon. Entah apa yang ada dibenakku, entah benar atau tidak, aku melihat sepasang mata yang melotot berwarna merah. Bulu kudukku merinding. Rasa penasaran bertumbuh, aku coba pastikan bahwa yang aku lihat itu adalah hanya imajinasiku, namun aku gagal. Tetap terlihat mata merah itu. Aku semakin merinding, dan hanya mengucap-ucap doa di dalam hati.
 
Kompas atau GPS yang dibawa Bang David sempat mengarahkan kami ke jurang. Aku semakin merinding. Puji Tuhan,,, Azis tiba-tiba dapat sesuatu dan inisiatif mengarahkan arah jalan pulang ke kiri. Kami lanjut perjalanan itu. Dan 3x aku masih melihat sepasang mata itu menatap ke arah kami. Sambil berjalan kesakitan, aku sambil berdoa " Tuhan jagai kami. " berulang kali.
Sempat Relia menanyakanku " Kenapa nangis, kak?" Aku hanya berkata, jangan tanya lagi, nanti aku semakin menangis.
God.. betapa lemahnya aku ketika itu. Kakiku akhirnya menyerah melangkah, aku berteriak untuk berhenti. Semua pun berhenti. Hal yang paling tidak mengenakkan ketika itu adalah, ketika Asry teriak dari belakang " Kok berhenti sih? " Relya pun menjawab " Kaki kak ophie sakit..." Dan dia pun membalas menyeletuk, "Semua sakitnya. Kakiku pun sakitnya, tapi mau gimana lagi."
Air mataku menetes. Aku sudah tidak sanggup lagi mendengar celetukan dia dibelakang itu, akhirnya aku teriak dari depan " Kalau mau deluan, deluan aja Asry.. " Semua pun hening. Aku tidak pernah berteriak sesakit ini. Aku tidak pernah berharap untuk berhenti di tempat itu, tapi kakiku?? Mengatakan untuk STOPPPP...
Aku inisiatif mengganti sepatuku dengan sendal gunung yang aku bawa. Bersyukur ada sendal ini. Yosepin dan Relya tampak turut prihatin melihatku. Hahahaha.. Andai ketika malam itu aku menceritakan apa yang aku lihat, mungkin Asry akan berteriak ketakutan di gunung itu.
Ternyata bukan cuma aku yang melihat, Relya dan Azis pun melihat. Melihat sesuatu yang berbeda. Bulu kuduk semakin berdiri tegang.
Sesampai di Desa yang tepat dibawah kaki gunung putri, kami diantar dengan mobil pick up. Aku dan Relya duduk disebelah supir, dan teman-teman yang lain dibelakang. Aku mengajak bercakap-cakap dengan Sang Supir. Dengan pengakuannya dia adalah salah satu cucu Kuncen atau juru kunci Gunung Gede. Dan dia menceritakan sejarah gunung gede dulu kala adalah Kerajaan Siliwangi. Dan apa yang aku lihat itu adalah benar. Huahhhhhhhh... pengen nangis rasanya di mobil itu. Dia bilang ada lutung ada harimau juga. Namun tidak berbahaya, asal kita tidak punya niat buruk di tempat itu. Para penghuni di tempat itu bisa merasakan mana yang berniat buruk di gunung itu mana yang tidak. Dia sempat memberi tahu kalau misalnya kita nyasar di gunung, jangan pernah untuk mencoba naik ke atas lagi, kalau tidak nanti kamu tidak akan bisa turun lagi, akan berputar-putar digunung itu. Dan Jangan sekali-kali melihat ke belakang. Ga apa-apa sih melihat kebelakang, asal kita kuat dan tidak shock. Entah apapun dibelakang kita, aku tidak mau tahu juga. Yang pasti jangan melihat ke belakang. Terus dia bilang juga, jika tiba-tiba tersesat. Cukup duduk tenang. Bila ada kopi, silahkan ngopi. Silahkan berdoa, kelak nanti akan ada yang menuntun kita dan membawa kita ke arah jalan yang seharusnya. Wihhhhh.... Jaman begini masih ada yang seperti ini? Di luar logika, namun beginilah kenyataannya. Dan heiii,,, inilah salah satu keunikan ciptaan Tuhan.
Dan dia pun terus-terusan mengingatkanku untuk selalu berdoa dan meyakini bahwa semua akan baik-baik saja. Kembali kepada keyakinan kita masing-masing. Dan jangan sekali-kali menantang, bertingkah aneh, menganggap sepele akan hal seperti ini. Demikian beliau berkata.
 
Thanks a lot God... pengalaman luar biasa bersama rekan pemuda gereja. Terasa lebih nikmat. Kami masih tetap dapat melakukan ibadah Minggu diatas puncak gunung gede. Kami masih bisa berdoa bersama-sama sepanjang kami diperjalanan.
 
More and more.. thanks to God... Pencipta segala keindahan, keunikan dan kemisteriusan Gunung Gede.. Semakin menyadariku bahwa aku manusia lemah, dan membutuhkan sesama. Menyadari akan kebesaran kuasaNya. Meyakinkan diri bahwa kami bisa tiba dengan selamat karena pertolonganNya. Tuhan itu Sungguh Baik untuk ku dan kamu, kita, dan kalian semua..
"Nagih lagi naik gunungnya, Tuhan...."

 
Tips untuk rekan-rekan yang mau mendaki:
1. Siapkan fisik, sebelum berangkat, beberapa hari olahraga lebih dulu.  Untuk wanita kalau bisa tidak sedang dalam kondisi sakit menstruasi.
2. Peralatan; sepatu gunung, carier, tenda, sarung tangan, jaket hangat, jas hujan, headlamp, gps
3. Bawalah barang seperlunya, biar tidak terlalu berat. Peralatan masak dan peralatan makan untuk camp seringan-ringannya, makanan instan, bila perlu bawa beras/nasi secukupnya. Air Mineral terutama.
4. Iman sesuai dengan keyakinan masing-masing.. ;)
 
 
 

0 comments:

Post a Comment

Te'amo>>>